Pemprov DKI Lakukan Earth Hour, Walhi Buka Data Konsumsi Listrik di Jakarta

Earth Hour
 


GLX GAMES - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan kampanye pemadaman listrik selama satu jam atau earth hour pada Sabtu (2/7/2022) malam di sejumlah titik. Gubernur DKI Anies Baswedan sendiri menginstruksikan untuk memadamkan api.


Mengacu pada Instruksi Gubernur Nomor 14 Tahun 2021, DKI Jakarta melaksanakan program pemadaman lampu satu jam di sejumlah lokasi, mulai dari seluruh bangunan gedung Kantor Pemprov DKI Jakarta (kecuali rumah sakit, puskesmas, klinik), jalan protokol, dan arteri, hingga simbol kota Jakarta.


WALHI Kritik Penerapan Earth Hour di Jakarta


Sementara itu, Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) DKI Jakarta Suci F Tanjung, mengatakan aksi Earth Hour di Ibu Kota tadi malam kurang efektif mengatasi jejak karbon akibat penggunaan energi fosil.


Namun, dia tetap mengapresiasi aksi kampanye Earth Hour di Jakarta, karena berisi ajakan kepada masyarakat untuk lebih peduli dan sadar akan penggunaan energi.


Earth hour sendiri merupakan gerakan global yang mengajak banyak orang untuk menunjukkan kepedulian dan kontribusinya dalam menanggulangi perubahan iklim secara simbolis.


Menurut Suxi, tentu saja earth hour semalam di Jakarta tidak menjawab permasalahan yang terjadi di ibu kota. Karena itu, ia meminta langkah lebih lanjut agar aksi semalam tidak berakhir hanya dengan kampanye.


“Diperlukan narasi lanjutan agar masyarakat mampu mengidentifikasi masalah yang sesungguhnya, sekaligus mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam mengurangi emisi karbon,” kata Suci dalam keterangan resminya, Minggu (3/7/2022).


WALHI buka data konsumsi listrik di Jakarta


Lebih lanjut, Suci kemudian membeberkan data konsumsi listrik di Jakarta yang sangat tinggi. Hal ini, kata dia, menjadi salah satu penyebab emisi karbon di ibu kota sangat tinggi.


Dari data PLN tahun 2019, konsumsi listrik di Jakarta memiliki persentase sebesar 6,11 persen. Namun jika dicermati, ternyata konsumsi listrik di Jakarta sebenarnya berada pada kisaran 13,97 persen. Tidak seperti yang di atas.


Jadi, tingginya konsumsi energi di Jakarta tentunya dikatakan berdampak pada peningkatan emisi karbon yang salah satunya menjadi penyumbang pencemaran udara sehingga berdampak negatif bagi kesehatan manusia dan lingkungan.


Harus ada aturan yang sistematis untuk mengatasinya


Dalam kesempatan itu, Suci kemudian menegaskan bahwa harus ada regulasi terkait pengurangan emisi secara sistematis dan struktural.


Misalnya, percepatan transisi ke energi terbarukan, peningkatan pelayanan transportasi umum, optimalisasi pengurangan dan pengelolaan sampah, hingga pengendalian sumber emisi terutama dari sektor industri.


“Konsumsi energi merupakan hal yang baik, namun transisi energi kotor ke energi lebih ramah lingkungan itu menjadi hal utama yang patut diperhatikan oleh para pemangku kepentingan,” ujarnya.




BISA MELIHAT HASIL SECARA NYATA DISINI

BANDAR DADU  -  BANDAR QIU QIU  - ADU QIU QIU SLOT  -  SICBO  -  OGLOK  -  BANDAR SAKONG  -  BOLA TANGKAS  -  HAPPY ROYAL  -  GLX GAMES  -  POKER  -  DOMINO

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama